Kamis, 17 November 2011

Resume Buku Etika Jamaah BAB X


Tidak Berambisi Meraih Kepemimpinan Atau Jabatan

Orang yang beramal dan termotivasi oleh cinta kedudukan dan kepemimpinan, biasanya akan terjerumus ke dalam berbagai kesalahan dan memancing datangnya fitnah, bahkan bisa menjadi trigger (pemicu) perselisihan. Biasanya pula dirinya akan bersemangat penuh dengan vitalitas dalam beramal, manakala hal itu menjanjiikan sebuah kedudukan ataupun status, namun ketika tak ada peluang untuk itu , taka da pula semangat dan yang tersisa hanya malas dan loyo.

Ambisi meraih kedudukan, jabatan, ketenaran dan status dalam istilah Dr. Sayyid Muhammad Nuh disebut dengan At tathali’u ilaa ash shadaarah wa thalabu ar riyaadah yang berarti kehendak seseorang untuk mencari segalanya lebih tinggi atau lebih utama dari orang lain. Shadarah dan riyadah , bermakna keinginan hati untuk menjadi pemimpin (imam) secara terang-terangan dan berlomba untuk mendapatkannya serta mendapat keutamaan-keutamaannya. Dan menurut beliau hal ini termasuk penyakit yang dapat menimpa para aktivis dakwah. Mengapa disebut penyakit? Karena ada tiga kemungkinan.

  1. Terdorong untuk menggapai kenikmatan psikologis

Yaitu kemungkinan adanya hasrat atau keinginan untuk lepas dari ikatan dan aturan orang lain. Ia tak ingin didominasi orang sehingga dia mendapatkan kebebasan tanpa punya ikatan ketaatan atau kepatuhan terhadap orang lain. Tidak ingin sejajar bahkan tak sudi di bawah komando seseorang, sehingga yang muncul adalah sifat takabbur dan perasaan istimewa, perasaan lebih pantas menjadi pemimpin dan terbebas dari kekuasaan orang lain. Munculnya ketenangan bathin ketika datang ketenaran ataupun penokohan terhadapnya.

2. Terdorong untuk meraih kenikmatan materialis

Yaitu kenikmatan untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan kehidupan duniawi berupa fasilitas-fasilitas yang biasa disediakan untuk para pemimpin, seperti harta dan kemewahan lainnya.

3. Kemungkinan dirinya sedang lalai

Kepemimpinan bukanlah posisi untuk dijadikan ambisi apalagi diperbutkan. Konsekuenasi seseorang menjadi pemimpin adalah rea mengorbankan segala hal yang menjadi kesenangannya. Rela harus berani lelah di saat orang lain istirahat, siaga dalam jaga di saat orang lain tertidur, berani lapar di saat orang lain kenyang, mendahulukan ummat atas dirinya, tampil terdepan dalam perjuanga, dan sebagainya.

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

semoga kita semua diberikan kesucian hati dari segala niat yang ditujukan bukan karena ALLAH.. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar