Kamis, 17 November 2011

Pemimpin Ketinggalan Bus

0 komentar

Oleh: Cahyadi Takariawan*

Sebuah bus yang penuh berisi penumpang sedang melaju dengan cepat menelusuri jalanan yang menurun. Di belakang bus tampak ada lelaki yang mengejar bus dengan berlarian. Tampak wajahnya tegang dan berusaha sekuat tenaga mencapai bus yang kian kencang.

Seorang penumpang mengeluarkan kepala keluar jendela bus dan berkata kepada lelaki yang mengejar, “Hai kawan! Sudahlah kamu tak mungkin bisa mengejar bus ini!”

Lelaki tersebut menjawab, “Saya harus mengejarnya . . .”

Dengan nafas tersengal-sengal dia berteriak, “Saya adalah pengemudi bus ini!”

*******

Menjadi pemimpin bukanlah pekerjaan mudah. Salah satu tugas pemimpin adalah memberi arahan atau direction kepada semua pihak yang menjadi tanggung jawabnya. Ia harus bisa mengarahkan semua potensi agar bekerja secara optimal guna mencapai tujuan organisasi.

Mengarahkan adalah soal ilmu dan seni. Tentu ada ilmu yang bisa dipelajari, bagaimana cara memberi arahan. Bagaimana cara memberikan kejelasan direction yang mudah dimengerti dan dilaksanakan semua anggota. Namun mengarahkan juga memiliki seni tersendiri.

Menebar Racun Persepsi

Suatu saat seorang pemimpin organisasi memberikan arahan dengan berapi-api. Ia bercerita tentang visi dan misi organisasi. Ia mengarahkan agar semua anggota bekerja dan berjuang untuk mencapai visi dan misi organisasi di tengah kompetisi yang semakin berat. Ia bercerita tentang rival atau musuh organisasi, yang bisa menghancurkan keutuhan organisasi. Ia bercerita tentang strategi memenangkan kompetisi di tengah rivalitas berbagai organisasi.

Sang pemimpin mampu membangkitkan semangat dan motivasi kepada semua anggota. Arahan yang disampaikannya benar-benar membakar semangat para anggota. Mereka semua terbangkitkan jati dirinya sampai ke level emosi. “Kita harus bangkit !” kata sang pemimpin yang disambut dengan teriakan dan yel-yel yang kompak.

Berkali-kali dalam kesempatan yang berlainan sang pemimpin kharismatik ini menyampaikan arahan serupa. Ia selalu mampu membangkitkan gairah yang menyala kepada semua anggota untuk setia dan membela visi organisasi, bahkan semua cara harus dilakukan dalam rangka memenangkan kompetisi. Kalau perlu harus menyerang dan mematikan rival, agar semakin menguatkan eksistensi organisasi.

Apalagi dibumbui dengan cerita-cerita yang membangkitkan emosi. Bahwa ada musuh yang telah bekerja siang dan malam untuk menghancurkan organisasi. Bahwa ada konspirasi yang sangat berbahaya dan telah efektif bekerja menggerogoti organisasi. Bahwa ada sejumlah operasi musuh yang sedang berjalan untuk mematikan organisasi. Para anggota menyimpan kemarahan yang mendalam terhadap musuh-musuh yang sedemikian memuakkan.

“Lawan !” kata para anggota serempak.

“Hancurkan !” kata semua anggota dengan kompak.

Semenjak proses “pembakaran” emosi berlangsung, temperamen para anggota mulai menampakkan perubahan. Mereka berubah menjadi beringas saat bertemu anggota organisasi lain yang masuk kategori musuh. Emosi mereka mudah memuncak hanya karena melihat organisasi rival sedang melakukan kegiatan yang telah terprogramkan.

Inilah racun persepsi itu. Sebuah racun yang sangat ganas dan merubah temperamen serta perilaku. Bermula dari persepsi, akhirnya meracuni watak dan perbuatan.

Jahatnya Racun Persepsi

Teori konspirasi telah merasuk sampai tulang sumsum para anggota. Teori permusuhan telah masuk menjadi aliran darah dan ritme nafas semua anggota. Setiap melihat aktivitas organisasi yang menjadi rival, pikiran mereka selalu menyimpukan, “Mereka sedang berusaha menghancurkan organisasi kita”.

Setiap ada tokoh organisasi rival yang muncul di media memberikan pernyataan, selalu dikaitkan dengan strategi penghancuran dan permusuhan. “Modus apa lagi yang dia lakukan untuk merusakkan organisasi kita?”

Tidak ada yang benar, semua aktivitas dan pernyataan dari organisasi rival selalu dinilai negatif dan salah. Semua masuk dalam kerangka teori yang telah terbangun kokoh di benak mereka, bahwa organisasi rival selalu bekerja siang dan malam, tanpa kenal lelah, mengeluarkan berbagai daya dan upaya untuk menghancurkan organisasi mereka. Pikiran mereka dipenuhi curiga dan kewaspadaan yang berlebihan.

Hingga akhirnya terjadilah peristiwa itu. Ada sedikit salah paham saat organisasi rival melakukan aktivitas rutin.

“Mengapa anda beraktivitas di sini? Bukankan anda tahu ini wilayah kekuasaan kami ? Anda ingin merusak organisasi kami ya?” tanya mereka.

Para rival sangat terkejut. Mereka hanya berkegiatan rutin, mereka telah memiliki program yang juga sudah berjalan selama ini tanpa ada masalah. Tiba-tiba program yang sudah rutin berjalan itu dipermasalahkan.

“Kami hanya menjalankan program rutin organisasi kami”, jawab sang rival.

“Bohong, selama ini anda bekerja sistemis merusak organisasi kami. Anda selalu memusuhi kami!” mereka tambah beringas.

Sang rival bertambah heran dan bingung. Tidak ada niat untuk melakukan perusakan atau penghancuran organisasi. Itu hanya kegiatan rutin yang selama ini juga sudah berjalan. Bagaimana bisa dituduh melakukan perusakan sistemis ?

Pertikaian tidak bisa dihindarkan. Setiap kali bertemu rival, selalu terjadi perbenturan fisik. Korban mulai berjatuhan, semakin lama semakin banyak. Dari kedua belah pihak. Racun persepsi telah menjalar dan menguasai hati, pemikiran dan perilaku anggota organisasi. Yang ada dalam benak mereka hanyalah mencegah lawan bekerja, agar tidak menghancurkan organisasi. Lawan, hancurkan ! Itu semboyan setiap bertemu rival.

Semakin lama permusuhan kian mengkristal. Konflik horisontal merebak dimana-mana. Para anggota tidak bisa lagi berpikir rasional dan proporsional. Semua berlaku emosional. Perilaku bakar membakar, perilaku saling melempar, akhirnya menjadi kian liar dan tidak bisa dikendalikan.

Sang pemimpin menyadari bahwa arahannya telah menjadi pemicu kerusuhan massal. Ia berusaha mengingatkan dan mengendalikan para anggota. Namun tidak bisa. Perilaku anggota yang emosional semakin kokoh terbangun akibat benturan praktis di lapangan. Emosi kian memuncak.

Gerakan para anggota yang emosi kian kencang. Seperti bus yang bergerak kian kencang pada jalan menurun. Seseorang berusaha sekuat tenaga mengejar bus yang berjalan kencang tersebut. Sia-sia. Bahkan seorang penumpang menasihati, “Hai kawan! Sudahlah kamu tak mungkin bisa mengejar bus ini!”

Lelaki tersebut menjawab, “Saya harus mengejarnya . . .”

Dengan nafas tersengal-sengal dia berteriak, “Saya adalah pengemudi bus ini!”

Awalnya Adalah Ilmu dan Kepahaman

Sebagai pemimpin, anda harus memberikan arahan untuk menumbuhkan kepahaman yang mendalam. Bukan arahan untuk membangkitkan emosi serta kemarahan anggota. Apabila para anggota bergerak berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kepahaman, akan muncul pergerakan yang cerdas, smart, serta membuahkan hasil yang optimal seperti harapan.

Ada perbedaan yang mencolok antara ilmu dengan emosi. Ilmu cenderung memerlukan proses yang runtut dan bertahap. Seperti logika sekolah, dari TK hingga ke Perguruan Tinggi. Seseorang tidak bisa sekolah di SMA apabila tidak pernah melalui sekolah dulu di SD. Hal ini karena pertumbuhan ilmu memerlukan proses yang bertahap.

Sedangkan emosi bercorak sesaat. Ia mudah diledakkan kapan saja, tanpa proses yang bertahap. Orang bisa dicetak dengan cepat untuk menjadi beringas dan penuh kebencian. Tanamkan saja racun persepsi, bangun saja teori konspirasi, maka para anggota akan terjebak dan terpenjara dalam racun persepsi yang sangat mematikan ini. Yang akan muncul hanyalah emosi.

Maka selalu tanamkan ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang benar kepada para anggota organisasi. Jangan hanya meledakkan emosi mereka dengan berbagai cerita yang didramatisir untuk mendapatkan pembenaran. Bergerak berdasarkan ilmu berbeda dengan bergerak karena emosi. Bangsa kita sudah cukup sakit, jangan diperparah dengan tindakan yang membuat suasana permusuhan dan pertikaian berkepanjangan antara sesama anak bangsa.

Pemimpin Harus Bertanggung Jawab

Sebagai pemimpin, anda harus bertanggung jawab atas ledakan emosi para anggota. Bukankah itu dampak dari arahan yang anda berikan ?

“Saya tidak pernah memerintahkan anggota saya melakukan perusakan”, jawab sang pemimpin.

“Saya tidak pernah menyuruh anggota untuk bertindak brutal”.

“Saya tidak bisa mengendalikan anggota saya. Mereka sedang marah karena perbuatan musuh”.

Benarkah mereka marah dan emosi karena perbuatan musuh ? Tapi, siapa yang menciptakan musuh dalam benak mereka ? Siapa yang menyiapkan kerangka teori tentang konspirasi musuh sehingga mereka yakini ?

Pemimpin harus bertanggung jawab atas tindakan anggotanya. Tidak bisa berlepas diri dari tanggung jawab, dan melempar kesalahan begitu saja kepada pihak yang dianggap musuh.

Jangan menjadi pemimpin yang ketinggalan bus. Padahal harusnya anda yang menjadi sopir bus itu, nyatanya bus berjalan sendiri di jalan menurun. Anda mengejar dengan susah payah karena merasa bertanggung jawab untuk mengendarai bus. Ternyata bus bergerak kian cepat dan anda semakin payah untuk mengejarnya.

Bahkan seorang penumpang menasihati anda, “Hai kawan! Sudahlah kamu tak mungkin bisa mengejar bus ini!”

Anda menjawab, “Saya harus mengejarnya . . .”

Dengan nafas tersengal-sengal anda akhirnya berteriak, “Saya adalah pengemudi bus ini!”

*)http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1870#more-1870

Post Power Syndrome

0 komentar

Agama dan kekuasaan adalah dua keping mata uang yang tak dapat dipisahkan. Agama takkan mungkin dapat dilaksanakan dengan baik, bila tidak ada kekuasaan yang menjaganya. Oleh karena itu, banyak kader dakwah yang menempati pos–pos kekuasaan baik tingkat daerah hingga pusat. Kekuasaanpun tidak akan baik bila tidak ada landasan agama didalamnya.

Roda pasti berputar. Tongkat estafet dakwah harus dijalankan. Tidak ada kesejatian, apalagi masalah kekuasaan. Ada masanya, kekuasaan (baca : amanah) akan berakhir.

Tidak dapat dipungkiri, kader dakwah adalah seorang insan biasa. Yang dengan keshalihannya bisa menyaingi malaikat, namun dengan kebobrokannya, dapat lebih rendah derajatnya dari binatang.

Setelah amanah yang diembannya selesai, bagi beberapa kader mungkin senang dan bahagia, karna pertarungan pertambahan dosa karna maksiat atau penambahan amal karna bermanfaatnya ia juga usai. Sehari dua hari tidak ada perubahan berarti. Hingga sampai suatu saat ketika ada titik jenuh di mana seorang kader yang biasanya berjubel amanah, tidak lagi memegang satupun amanah dakwah. Yang ada hanyalah kekosongan mengisi waktu dengan hal–hal yang bermanfaat. Tibalah futur menyapa perlahan, menggoda sang ikhwah yang sendiri menyepi dari jama’ah. Hingga post power syndrom terjadi.

Secara harfiah, post power syndrom adalah sindrom yang dirasakan oleh seseorang yang telah usai memegang suatu kekuasaan. Yang biasanya suaranya didengar, pendapatnya dijadikan pertimbangan dan kehadirannya dinantikan banyak orang, kini tinggal kenangan. Yang ada hanyalah goresan sejarah yang terkenang dan perasaan yang bercampur aduk, resah mencari ke mana lagi ada tempat untuk mengaktualisasi diri.

Yang perlu dilakukan sebelum post power syndrom menyapa adalah membuat kesibukan dimana ikhwah dapat berkontribusi untuk masyarakat luas, sehingga tidak ada kevakuman dalam beramal jama’i dan pensiun dakwah. Hati–hati dengan kesendirian. Domba yang sendiri lebih mudah diterkam oleh serigala daripada domba yang bergerombol.

Jika manusia tahu bahwa kematian akan menghentikannya dalam beraktivitas, maka ia pasti akan melakukan perbuatan dalam hidupnya yang pahalanya terus mengalir setelah ia mati (Ibnu Al – Jauzi)

Tidak ada yang namanya kehabisan amanah, yang ada hanyalah belum terdistribusinya amanah secara merata. Coba tengok lingkungan rumah kita, betapa banyak remaja yang butuh bimbingan langsung dan intensif untuk merubah hidupnya. Sekarang lihat kembali tempat kita pernah bersekolah dulu, berapa banyak ikhwah yang mengurusi dakwah disana? Sepenglihatan saya, kebanyakan mereka orang–orang yang berjumlah minim dan pastinya dengan kapasitas terbatas.

Saudaraku yang senantiasa dirahmati Allah, cobalah buka mata hati di sekitar kita. Bila futur menyapa karna kehampaannya amanah, bergeraklah mencari ladang–ladang baru. Ladang–ladang itu tidak hanya bisa dicari, namun juga bisa diciptakan. Yakinlah begitu banyak kewajiban kita menyeru yang belum tersampaikan, dengan itu kita bisa terus bergerak untuk kemaslahatan umat. Semangat selalu untuk umat.

Oleh: Amalia Dian Ramadhini

Fimadani.com

Resume Buku Etika Jamaah BAB X

0 komentar

Tidak Berambisi Meraih Kepemimpinan Atau Jabatan

Orang yang beramal dan termotivasi oleh cinta kedudukan dan kepemimpinan, biasanya akan terjerumus ke dalam berbagai kesalahan dan memancing datangnya fitnah, bahkan bisa menjadi trigger (pemicu) perselisihan. Biasanya pula dirinya akan bersemangat penuh dengan vitalitas dalam beramal, manakala hal itu menjanjiikan sebuah kedudukan ataupun status, namun ketika tak ada peluang untuk itu , taka da pula semangat dan yang tersisa hanya malas dan loyo.

Ambisi meraih kedudukan, jabatan, ketenaran dan status dalam istilah Dr. Sayyid Muhammad Nuh disebut dengan At tathali’u ilaa ash shadaarah wa thalabu ar riyaadah yang berarti kehendak seseorang untuk mencari segalanya lebih tinggi atau lebih utama dari orang lain. Shadarah dan riyadah , bermakna keinginan hati untuk menjadi pemimpin (imam) secara terang-terangan dan berlomba untuk mendapatkannya serta mendapat keutamaan-keutamaannya. Dan menurut beliau hal ini termasuk penyakit yang dapat menimpa para aktivis dakwah. Mengapa disebut penyakit? Karena ada tiga kemungkinan.

  1. Terdorong untuk menggapai kenikmatan psikologis

Yaitu kemungkinan adanya hasrat atau keinginan untuk lepas dari ikatan dan aturan orang lain. Ia tak ingin didominasi orang sehingga dia mendapatkan kebebasan tanpa punya ikatan ketaatan atau kepatuhan terhadap orang lain. Tidak ingin sejajar bahkan tak sudi di bawah komando seseorang, sehingga yang muncul adalah sifat takabbur dan perasaan istimewa, perasaan lebih pantas menjadi pemimpin dan terbebas dari kekuasaan orang lain. Munculnya ketenangan bathin ketika datang ketenaran ataupun penokohan terhadapnya.

2. Terdorong untuk meraih kenikmatan materialis

Yaitu kenikmatan untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan kehidupan duniawi berupa fasilitas-fasilitas yang biasa disediakan untuk para pemimpin, seperti harta dan kemewahan lainnya.

3. Kemungkinan dirinya sedang lalai

Kepemimpinan bukanlah posisi untuk dijadikan ambisi apalagi diperbutkan. Konsekuenasi seseorang menjadi pemimpin adalah rea mengorbankan segala hal yang menjadi kesenangannya. Rela harus berani lelah di saat orang lain istirahat, siaga dalam jaga di saat orang lain tertidur, berani lapar di saat orang lain kenyang, mendahulukan ummat atas dirinya, tampil terdepan dalam perjuanga, dan sebagainya.

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

semoga kita semua diberikan kesucian hati dari segala niat yang ditujukan bukan karena ALLAH.. Aamiin...


Oleh: Ust. Cahyadi Takariawan *

Apa makna menjadi pengurus organisasi dakwah bagi para kader ? Tentu sangat banyak maknanya, namun saya mengajak anda melihat dari dua aspek ini saja : lahan kontribusi dan lahan kaderisasi. Dua makna penting yang harus menjadi cara pandang kita dalam kehidupan berstruktur atau berorganisasi dakwah.

Pertama adalah lahan kontribusi. Organisasi dakwah telah mendidik dan menyiapkan banyak kader dengan beragam potensi dan keahlian. Semua potensi dan semua keahlian yang dimiliki para kader sangat bermanfaat bagi organisasi dalam mengelola semua aktivitas dan programnya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dengan dilibatkannya para kader dalam struktur kepengurusan, telah menjadi lahan berkontribusi yang nyata untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki.

Ada potensi administrasi, ada potensi kepemimpinan, ada potensi manajerial, ada potensi loby, ada potensi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum dan lain sebagainya. Keseluruhan potensi tersebut diwadahi dalam bingkai struktur organisasi, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat sesuai kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki. Dengan manajemen yang tepat, semua potensi diolah dalam sebuah orkestra kepengurusan yang harmonis, sehingga menghasilkan simfoni yang indah, teratur, berirama dan terarah.

Orkestra bisa kacau, atau menghasilkan lagu yang tidak enak didengar, sumbang dan tidak serasi, karena ada bagian dari pemain orkestra yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

Mengapa tidak melaksanakan tugas dengan baik ? Bisa jadi karena tidak sesuai kemampuan dan keahliannya. Ahli gitar yang diminta memainkan biola tentu tidak akan menghasilkan harmoni yang tepat. Bisa jadi pula karena kualitas dan integritas pribadi yang bersangkutan, yang tidak memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, atau tidak memiliki obsesi serta cita-cita kemajuan dan perbaikan. Dia tidak peduli kalau konser orkestra tersebut berantakan dan tidak sukses.

Dalam perspektif ini, menjadi pengurus organisasi dakwah di level apapun, di pusat, propinsi, kabupaten/kota, kecamatan ataupun desa/kelurahan, menjadi lahan bagi kader untuk mengkontribusikan waktu, tenaga, pemikiran dan semua potensi yang dimiliki bagi tercapainya tujuan-tujuan organisasi dakwah. Keterlibatan dalam struktur organisasi menjadi sarana tersalurkannya berbagai kemampuan dan keahlian kader, yang sesuai dengan dinamika internal dan eksternal organisasi tersebut. Ini merupakan makna yang penting, dimana segala potensi kader bisa tersalurkan dalam wahana dan sarana yang tepat untuk dikontribusikan bagi pencapaian tujuan.

Pada sisi yang lain, organisasi dakwah dipenuhi oleh para kader yang memang memiliki kapasitas yang memadai sehingga menyebabkan organisasi menjadi dinamis dan memiliki keunggulan kompetitif. Pada akhirnya bertemulah antara lahan kontribusi kader dengan kebutuhan organisasi dakwah yang dinamis. Potensi kader terkontribusikan secara optimal, pada saat yang sama organisasi dakwah menjadi kuat dan unggul karena dikelola oleh para kader yang penuh potensi.

Namun jangan hanya memandang posisi kepengurusan hanya dari segi lahan kontribusi kader saja, harus digenapkan cara pandang kita dengan memahami bahwa kepengurusan organisasi dakwah adalah lahan kaderisasi. Inilah makna kedua dari kepengurusan organisasi dakwah, dan merupakan makna yang sangat penting bagi sebuah organisasi kader. Menjadi pengurus organisasi adalah lahan melakukan kaderisasi, dimana setiap saat, setiap periode kepengurusan, kader datang silih berganti mengisi pos-pos yang tepat bagi dirinya.

Di sisi ini terjadi sesuatu yang unik, karena kedua makna ini bisa dipandang sebagai sesuatu yang sinergis, namun bisa juga dipandang sebagai sesuatu yang kadang bertubrukan kepentingan. Dalam perspektif sinergis, kepengurusan dalam organisasi dakwah adalah lahan kontribusi bagi potensi kader yang sekaligus menjadi lahan kaderisasi struktural. Namun dalam sisi yang bersebelahan, kadang organisasi harus memilih beberapa personal kader saja untuk menempati pos-pos kepengurusan, sementara kader jumlahnya sangat banyak yang tidak mungkin tertampung semua dalam struktur kepengurusan. Tentu ini pilihan yang sulit.

Dalam setiap prosesi pergantian kepengurusan organisasi dakwah lewat mekanisme Musyawarah, selalu ada suasana khas. Ada pengurus lama yang sudah berpengalaman dan bertambah ilmunya karena telah melaksanakan amanah kepengurusan selama satu atau dua periode, namun ada sangat banyak kader potensial yang siap menempati pos-pos kepengurusan, dengan menjadi pengurus baru.

Para pengurus lama telah menjadi senior, yang karena memiliki pengalaman struktural pada periode sebelumnya, menjadi bertambahlah ilmu, pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan dan kemampuannya dalam menjalankan amanah organisasi. Potensi mereka bertambah besar dan sangat penting untuk dikontribusikan bagi organisasi dakwah. Namun, para senior harus pandai menempatkan diri agar tidak terjebak dalam sebuah suasana status quo, dimana merasa mapan dengan posisi struktural dalam organisasi dakwah sehingga tidak mau digeser atau diganti.

Jika kepengurusan jumud dan statis, tidak memberikan kesempatan kepada kader baru untuk terlibat dalam struktur organisasi, akan menyebabkan kaderisasi mandeg. Kader-kader baru yang terus bermunculan tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pembelajaran dan pengalaman berstruktur, pada saat yang bersamaan organisasi bisa mengalami kejumudan karena diisi oleh wajah-wajah lama. Untuk itu, pengalaman berstruktur perlu dibuka seluas-luasnya bagi kader-kader baru, agar terjadi dinamisasi dan percepatan kaderisasi.

Hal ini tentu saja tidak menghalangi bagi organisasi untuk tetap mempertahankan beberapa personal lama di beberapa posisi yang dianggap penting dan perlu diisi oleh senior berdasarkan pertimbangan strategis yang ada pada waktu itu. Ada tokoh-tokoh senior yang memang sangat diperlukan untuk menjaga organisasi, namun perlu banyak kader baru yang harus segera dimunculkan. Komposisi tua – muda atau senior – yunior atau lama – baru menjadi penting untuk menjaga agar organisasi menjadi seimbang dengan adanya kebijakan dan hikmah dari para senior, namun tetap menggelorakan semangat kader-kader muda.

Pada konteks kaderisasi struktural seperti ini, ada banyak kesadaran besar yang harus dibangun di hati dan benak semua kader.

Kesadaran pertama, bahwa kontribusi dakwah tidak selalu dan tidak harus dibangun dalam wadah kepengurusan formal. Sangat banyak lahan kontribusi untuk menyumbangkan segala potensi yang kita miliki di jalan dakwah. Menjadi pengurus adalah salah satu lahan kontribusi, namun tidak mungkin semua kader tertampung dalam struktur kepengurusan formal. Struktur organisasi dakwah selalu lebih sempit dibandingkan dengan jumlah dan potensi kader yang dimiliki. Purna kepengurusan tidak berarti purna kontribusi bagi dakwah, karena kontribusi bisa diberikan dalam berbagai bidang amal salih yang sangat luas.

Kesadaran kedua, bahwa pengalaman berstruktur dalam organisasi dakwah merupakan bagian utuh dari proses tarbiyah (pembinaan dan pengkaderan). Oleh karena itu, para senior harus memberikan tempat dan kesempatan yang luas bagi para kader muda untuk mengalami dan merasakan pengalaman berstruktur tersebut. Pemunculan kader menjadi pengurus baru merupakan sebuah akselerasi pergerakan dakwah, agar semakin banyak kader memiliki kemampuan, ketrampilan dan pengalaman berstruktur. Dengan demikian, organisasi dakwah telah menyiapkan aset yang besar bagi upaya membangun masa depannya.

Kesadaran ketiga, bahwa penempatan kader dalam struktur kepengurusan merupakan amanah dakwah, bukan sebuah pemuliaan atau penghormatan. Artinya, jika ada pengurus baru menggantikan pengurus lama, para pengurus baru ini tengah menerima amanah untuk ditunaikan dengan sepenuh tanggung jawab dan dedikasi, sedangkan para pengurus lama yang tidak lagi mendapatkan amanah kepengurusan bukanlah pihak yang dicampakkan. Kalau menjadi pengurus dimaknai sebagai pemuliaan, maka tatkala tidak terpilih menjadi pengurus akan dimaknai sebagai pembuangan, pencerabutan atau pencampakan potensi. Padahal sama sekali tidak seperti itu maknanya.

Kesadaran keempat, tidak ada rumus pengistimewaan bagi para senior. Dalam organisasi dakwah, senioritas tidak dimaknai dalam konteks pragmatis, misalnya diutamakan dalam penempatan kepengurusan, atau didahulukan dalam penempatan di jabatan publik, diutamakan dalam fasilitas, dan seterusnya. Kepemimpinan bukanlah proses yang terjadi secara “urut kacang”, dimana setiap kader bisa menghitung kapan kesempatan menjadi pemimpin.

Tidak seperti itu rumusnya. Untuk menempati posisi kepemimpinan tidak selalu diambil dari orang yang paling senior atau lebih senior, namun lebih kepada pertimbangan kemaslahatan dalam pengertian yang luas. Hal ini penting dipahami, agar kader yang merasa senior tidak tersinggung ketika dirinya tidak ditempatkan dalam posisi kepemimpinan di struktur organisasi.

Kesadaran kelima, bahwa pergantian kepengurusan adalah sebuah keniscayaan. Organisasi perlu diisi berbagai potensi, perlu diregenerasi, perlu disegarkan dengan adanya pergantian. Proses pergantian kepengurusan menandakan denyut kaderisasi berjalan dengan lancar. Tidak mungkin selamanya kader menjadi pengurus organisasi, harus ada batas waktunya. Maka silih berganti kader datang dan pergi mengisi pos-pos struktur organisasi, untuk berkontribusi, dan menjadi lahan kaderisasi.

Kesadaran keenam, bahwa purna kepengurusan berarti memiliki kesempatan lebih luas untuk aktualisasi potensi di tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Setelah berkontribusi melalui struktur organisasi dakwah, terbentuklah pendewasaan, pengalaman, kemampuan, ketrampilan yang didapatkan selama masa kepengurusan berlangsung. Hal ini menjadi modal dan bekal untuk membangun ketokohan sosial, membangun jejaring sosial, membangun kredibilitas publik, untuk mengambil peran-peran kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan lebih lanjut.

Kesadaran ketujuh, bahwa tidak ada kamus pensiun dalam aktivitas dakwah. Periodisasi dalam kepengurusan organisasi dakwah memiliki makna proses kaderisasi dan regenerasi yang lancar dan teratur di kalangan kader dakwah. Setiap pengurus organisasi akan pensiun dari kepengurusan, namun tidak ada kata pensiun dari aktivitas kebaikan. Dakwah adalah sebuah dinamika yang berkesinambungan dan terus menerus sampai akhir zaman. Tak pernah ada pensiunan aktivis, walaupun ada aktivis yang futur. Maka kendati tidak berada dalam barisan kepengurusan, tidak berarti selesai berkontribusi.

Bagi kader dakwah, totalitas (tajarrud) artinya adalah memberikan semua potensi yang dimiliki dalam rangka mencapai tujuan-tujuan dakwah. Dengan demikian, tidak terbatas pada amanah kepengurusan formal. Dimanapun kader berada, dimanapun kader beraktivitas, melalui sarana apapun kader berkarya, semua bisa dioptimalkan bagi kepentingan pencapaian tujuan dakwah. Semua tetap terajut dalam kerja sistemik (amal jama’i), yang akan membuahkan hasil yang sistemik pula.

Setelah rampung prosesi pergantian kepengurusan, kita ucapkan selamat bertugas dan mengemban amanah bagi para kader yang mendapatkan peran struktural. Curahkan segala potensi dan kemampuan anda dalam menunaikan amanah kepengurusan, dengan segenap kesungguhan dan dedikasi, dengan segenap kecintaan dan pengurbanan. Optimalkan pembelajaran selama mengemban amanah kepengurusan, sehingga purna kepengurusan nanti anda memiliki banyak sekali ilmu, wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan semakin bertambah potensi yang anda miliki.

Bagi para kader yang telah purna masa khidmahnya dalam struktur kepengurusan formal, kita ucapkan selamat atas keberhasilan memberikan kontribusi terbaik selama masa kepengurusan. Anda telah mendapat pengalaman dan pembelajaran berstruktur yang sangat penting bagi peningkatan kapasitas anda, dan sekarang anda telah memberikan kesempatan kepada kader-kader muda untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran tersebut.

Organisasi dakwah ini adalah sebuah Universitas yang terus mencetak kader untuk semakin lengkap potensinya.

Selamat berkontribusi pada lahan-lahan amal yang baru, di luar struktur kepengurusan organisasi. Ada sangat banyak lahan kontribusi menanti anda, ada sangat banyak kesempatan beramal di jalan dakwah, ada sangat banyak peran yang bisa anda lakukan, tanpa harus berada dalam struktur kepengurusan formal. Semua tetap dalam bingkai amal jama’i yang teratur rapi. Semua tetap dalam satu koordinasi dan konsolidasi untuk mencapai mimpi-mimpi yang kita bangun selama ini.

Itulah beberapa kesadaran besar yang harus kita kuatkan dalam kehidupan dakwah. Jangan ada kader yang merasa dicampakkan, atau dilupakan, atau dibuang, hanya karena dirinya tidak tertampung dalam jajaran kepengurusan. Jangan ada kader yang kecewa dan merasa terhina hanya karena tidak masuk dalam struktur organisasi. Semua kader dakwah mengerti lahan-lahan tempat berkontribusi. Semua kader dakwah memahami untuk tujuan apa terlibat dalam dakwah ini. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Menjadi apapun kita di organisasi dakwah yang kita cintai, atau tidak menjadi apapun. Jangan pernah berhenti.

Fa idza faraghta fanshab, wa ila Rabbika farghab.

*dengan beberapa perubahan

source: http://cahyadi-takariawan.web.id

Kecewa adalah tanda CINTA

0 komentar

Oleh: Cahyadi Takariawan*

Tentang kecewa. Sesungguhnyalah kecewa muncul karena adanya harapan yang tidak kesampaian. Ada harapan yang ditanam, dan ternyata tidak didapatkan dalam kenyataan. Inilah yang menyebabkan muncul kekecewaan. Jarak yang terbentang antara harapan dengan kenyataan itulah ukuran besarnya kekecewaan. Semakin lebar jarak yang terbentang, semakin besar pula kekecewaan. Oleh karena itu, kecewa itu ada di mana-mana, di lingkungan apa saja, di dunia mana saja, selalu ada kecewa.

Mari kita mulai dari yang paling kecil dan sederhana. Kadang kita kecewa dengan diri kita sendiri. “Mengapa saya tidak begini, mengapa saya tidak begitu”, adalah contoh kekecewaan yang kita alamatkan kepada keputusan kita sendiri yang telah terjadi. Kita menyesal di kemudian hari.

Dalam kehidupan rumah tangga yang isinya hanya dua orang saja, yaitu suami dan isteri, bisa muncul kekecewaan. Suami kecewa kepada isteri, dan isteri kecewa kepada suami. Hidup berdua saja bisa menimbulkan kecewa, apalagi kehidupan organisasi atau negara. Jika di dalam rumah tangga mulai ada anak-anak, kekecewaan bisa bertambah luas. Anak kecewa dengan sikap orang tuanya, dan orang tua kecewa dengan kelakuan anaknya. Satu anak dengan anak lainnya juga bisa saling kecewa mengecewakan.

Satu keluarga bisa kecewa atas perbuatan keluarga lainnya dalam sebuah lingkungan tempat tinggal. Satu desa bisa kecewa dengan desa lainnya dalam satu kecamatan. Indonesia sangat kecewa dengan sikap Amerika yang arogan, kecewa dengan sikap Israel yang merampas hak warga sipil Palestina secara semena-mena. Sebagaimana Amerika kecewa dengan Indonesia karena kurang akomodatif dengan kebijakan Amerika. Israel kecewa dengan Indonesia karena tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Jamaah sebuah masjid bisa kecewa dengan sikap imam masjid, sebagaimana imam masjid bisa kecewa dengan kondisi jamaah. Masyarakat gereja bisa kecewa terhadap pendeta sebagaimana pendeta bisa kecewa terhadap keadaan jemaatnya. Suporter sepak bola sering kecewa terhadap tim yang dibelanya, sebagaimana pemain sepak bola sering kecewa kepada sikap para suporter.

TNI bisa kecewa terhadap kebijakan dan sikap Polri sebagaimana Polri bisa kecewa terhadap TNI. Angkatan Darat bisa kecewa terhadap Angkatan Laut dan Udara, sebagaimana Angkatan Laut bisa kecewa terhadap Angkatan Darat dan Udara, atau Angkatan Udara kecewa terhadap Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di Angkatan Darat, seorang komandan bisa kecewa terhadap anak buahnya, sebagaimana anak buah bisa kecewa kepada komandannya.

Dalam gerakan dakwah, seorang kader bisa kecewa kepada pemimpin, sebagaimana pemimpin bisa kecewa atas sikap para kader. Di setiap gerakan dakwah, selalu ada orang yang kecewa dan meninggalkan gerakan dakwah itu. Selalu.

Sepanjang sejarah kemanusiaan paska masa kenabian, tidak ada satupun organisasi yang tidak pernah mengecewakan anggotanya. Semua organisasi, semua gerakan, semua harakah pernah mengecewakan anggotanya. Selalu ada anggota organisasi atau anggota gerakan yang kecewa dan terluka. Selalu.

Ini bukan soal benar atau salahnya kondisi tersebut. Ini hanya potret sesungguhnya, begitulah kenyataan yang ada. Cobalah sebut satu saja contoh organisasi, ormas, gerakan dakwah, instansi, atau apapun. Pasti ada riwayat pernah ada anggota atau pengurus yang kecewa. Kalau tidak ada yang pernah dikecewakan, berarti organisasi tersebut belum pernah beraktiviktas nyata.

Bahkan organisasi yang dibuat dari kumpulan orang kecewa, pasti pernah mengecewakan anggotanya pula. Misalnya sekelompok orang kecewa dengan kebijakan organisasi A, lalu mereka menyingkir dan berkumpul. Mereka bersepakat, “Kita berkumpul di sini karena dikecewakan para pemimpin kita. Sekarang kita himpun potensi kita, dan kita berjanji untuk tidak saling mengcewakan lagi. Jangan ada yang dikecewakan disini”. Tatkala mereka sudah eksis sebagai organisasi, maka pasti ada yang kecewa di antara mereka.

Mereka tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang diharapkan. Maka muncullah kecewa.

Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !

Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat, karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan masuk surga. Jangan takut memiliki harapan Indonesia yang makmur dan sejahtera. Jangan takut memiliki harapan Indonesia menjadi negara paling adil dan paling maju di seluruh dunia.

So, teruslah memiliki dan memupuk harapan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Jangan takut kecewa.

*dengan beberapa perubahan

http://cahyadi-takariawan.web.id


Dakwah tak akan mati, tapi kita akan mati.

Kita akan mati sebagai pengemban Dakwah atau Mati sebagai beban bagi Dakwah?

Bergerak, dan terus bergerak, untuk kebangkitan Dakwah Kampus.

Ada sekelompok manusia ‎yang mewakafkan dirinya untuk umat. Kisah manusia pilihan yang hidup untuk memperbaharui peradaban.

Mereka dipersatukan sejak awal masuk kampus, namun ada juga yang datang kemudian. Mereka belajar bersama, mereka berjuang sama, mereka bergerak bersama, dalam satu cita, Islam.

Perjalanan dakwah tak selamanya dihiasai ukhuwah yang indah, kadang adakalanya timbul pertengkaran kecil, kadang hadir cinta dan persahabatan yang kekal. Semua kejadian, semua problema, semua konflik antar aktivis dakwah, bukan menandakan dakwah menghancurkan ukhuwah, justru dakwah ini telah mempererat ukhuwah.

Ditengah perjalanan masa perkuliahan, ketika tanggung jawab dan amanah sudah waktunya diberikan, merekapun dengan semangat memilih jalan masing-masing, ada yang memilih jalur siyasah (BEM) , SKI, KSF, Himpunan, dan lembaga-lembaga lainnya baik yang internal ataupun eksternal.

Sejak saat ini, mereka mempunyai tugas dan peran yang berbeda, meskipun tetap berada pada halaqah yang sama.

Roda perjalanan pun berputar seiring jaman. Berbagai masalah dan konflik mulai berdatangan. Inilah ujian keimanan dan tujuan kita dipertemukan dengan tarbiyah.

Ketika ukhuwah mendapat ujian, mulailah timbul ketidakpercayaan, ketika agenda-agenda dakwah berantakan dan saling bertabrakan, mulailah mereka saling menyalahkan. Ketika banyak tantangan dan ujian, tidak sedikit mereka berjatuhan, mundur lantas menghilang dari pentas dakwah.

Ketika halaqah, yang seharusnya menjadi ajang untuk konsolidasi, memperbaiki dan menyatukan arah dakwah, digunakan sebagai ajang perdebatan, halaqah yang biasanya dipenuhi cinta dan ketenangan, berubah menjadi tangis dan kekacauan.

Perbedaan yang sebenarnya kecil, bisa berubah menjadi besar dan berujung konflik antar lembaga dalam menentukan arah dan strategi dakwah.

Namun sekali lagi, ini bukanlah kehancuran, karena pada hakikatnya, ini adalah proses menuju kedewasaan dalam mengelola perbedaan.

Dakwah kampus memang memiliki keunikan, dinamis dan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Maka, tidak heran jika permasalahan dan tantangan juga tinggi dan beragam. Namun, disinilah letak dari proses pembelajaran, pendewasaan dan persiapan yang matang sebelum terjun ke masyarakat.

Pertengkaran kecil itu akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan, menjadi perekat yang sangat kuat dalam persaudaraan. Menjadi sebuah kerinduan.

Dan akhirnya, kelulusan seakan menjadi akhir dari perjalanan, mereka mulai berpisah, ada yang tetap istiqomah melanjutkan dakwah dan tarbiyahnya, baik di kampus atau di masyarakat, namun ada juga yang berhenti dari dakwah dan tarbiyah, dan memilih jalannya sendiri.

Itu semua plilihan, yang pasti romantisme dakwah kampus telah membuat mereka dewasa, mempererat ikatan hati mereka, mengekalkan cintanya, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan.

Semoga Allah membimbing, memberi keistiqomahan dalam langkah mereka, dalam jalan mereka, mengekalkan cinta mereka, memberikan azam dan tekad dalam dakwah dan tarbiyahnya, dan mempersatukan mereka di dunia dan di surgaNya.

Dakwah tak akan mati, tapi kita akan mati.

Kita akan mati sebagai pengemban Dakwah atau Mati sebagai beban bagi Dakwah?

Bergerak, dan terus bergerak, untuk kebangkitan Dakwah Kampus.

Source: islamedia.web.id

*dengan beberapa perubahan


Mari kita beristighfar, Saudaraku.

Istighfar, apabila dakwah kita selama ini sering diselingi dengan keluh kesah. Istighfar, bila orientasi kerja kita masih keliru, sehingga akhirnya hanya lelah yang kita tumpu. Istighfar, jika ternyata kita termasuk aktivis dakwah yang beramal seadanya, mengada-ada, atau ada-ada saja.

Saudaraku, semoga hati kita bergetar karena-Nya. Semoga Istighfar tadi dapat membuka hati kita, yang selama ini membeku, tertutup oleh kelelahan dan kelemahan. Lelah karena lupa pada-Nya. Lemah karena tidak menyertakan-Nya pada setiap amal kita.

Jika lelah, tidak ada salahnya kita beristirahat, Saudaraku. Meski sejenak, beristirahatlah. Karena dengan beristirahat, kita bisa tahu bagian mana yang lelah, bagian mana yang salah. Dengan beristirahat, kita dapat mengumpulkan tenaga untuk berlari kembali. Istirahatlah, Saudaraku. Sejenak saja. Sisakan waktu untuk tubuhmu tenang. Sementara biarkan otakmu me-review apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Dan tanyakan:

Mengapa kita melakukan semua itu? Apa yang membuat kita bertahan hingga sejauh ini? Dan biarkan jiwamu menyelami makna dari setiap jengkal perjuangan yang telah kita lakukan.

Adakah yang terlupa, Saudaraku? Tentang nikmat yang lupa untuk kita syukuri. Tentang amal kecil yang belum kita jalani. Atau, adakah yang terlewat? Tentang dosa-dosa kecil yang kita remehkan. Tentang kelemahan yang tak kunjung dikuatkan. Sehingga pondasi dakwah kita keropos, tergerus oleh waktu dan nafsu. Sehingga amanah tak ubahnya tongkat estafet, meski berpindah namun tak berubah. Tak berkah. Sampai kapan kita tejebak dalam siklus stagnan ini, Saudaraku?

Mari kita beristirahat. Sejenak saja. Tak perlu waktu lama. Seperti yang dilakukan salah seorang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Karena kebiasaannya ketika sebelum tidur mengistirahatkan egonya, mengistirahatkan nafsunya, mengistirahatkan kealpaan dan kelemahannya dalam sehari itu. Ia istirahatkan semuanya dalam tetes air mata. Penuh sesal atas dosa.

Dan bukankah itu pula yang menyebabkan sahabat yang lain juga dijamin masuk surga? Karena setiap hari ia terbiasa mengistirahatkan kesedihannya, mengistirahatkan kemarahannya, mengistirahatkan bayang dan prasangkanya terhadap orang lain. Sehingga dalam sehari, sebelum tidur, ia selalu memaafkan orang yang telah membuat hatinya terluka. Juga membersihkan hatinya terhadap iri dengki, apabila orang lain mendapat rezeki melebihi dirinya.

Saudaraku, tetaplah kuat. Jangan biarkan diri kita lemah dan terjerumus dalam kungkungan kesedihan. Namun jangan pula jadikan sebuah amanah sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan kita untuk tawazun di amanah-amanah lainnya.

Ingatlah, kekuatan dakwah bukan terletak pada ramainya seremonial atau besarnya sebuah acara. Bukan pula pada banyaknya agenda yang kita lakukan. Tapi, kekuatan dakwah terletak pada sebuah kesederhanaan, yang terpancar di setiap pribadi para pelaku dakwahnya, para aktivis dakwahnya. Karena menjadi sederhana itu kuat,

Saudaraku.

Apabila yang lain telah menjauh dan terbentur dengan kedustaan dan kemalasan, tetaplah berada pada kesederhanaan. Karena kesedernahaan itu terwujud sebagai sebuah amal yang jujur, tidak banyak alasan. Kesederhanaan juga terpancar pada kesabaran, tanpa banyak keluhan. Dan kesederhanaan tentunya lahir dari sebuah kesadaran. Sadar untuk menjaga keikhlasan dalam niat. Sadar untuk tetap komitmen dalam dakwah. Sadar untuk terus istiqomah, meski yang lain sudah berubah.

source: fimadani.com


Oleh : Cahyadi Takariawan*

Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.

Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.

Kamu siapa ?

“Saya pengurus lembaga dakwah”. Ini bisa disebut.

“Saya pejabat publik yang diusung oleh jamaah dakwah”. Ini juga bisa disebut.

“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.

Tapi, kamu siapa ?

“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.

Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.

*dengan beberapa perubahan

Yaa ALLAH, Aku Futur

0 komentar

Al-imaanu yazidu wa yanqush.

Kata-kata inilah yang melekat dalam hati kami, bahwasanya iman itu bisa naik dan turun.

“Yazidu bith tho’at, yanqushu bil ma’shiyat.”

Dipertegas dengan uraian berikutnya, bahwa naiknya iman itu merupakan indikasi adanya ketaatan yang kita lakukan, diterima oleh Allah. Sebaliknya, ketika iman kita turun, berarti ada maksiat yang kita kerjakan, diterima (dihitung sebagai dosa) oleh Allah.

Di kalangan anak muda zaman sekarang marak istilah galau. Kalau di kalangan aktivis dakwah, namanya jadi futur. Menurut saya keduanya sama saja. Galau maupun futur adalah indikasi turunnya iman kita kepada Allah. Karena bagi orang beriman tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-Baqarah[2]:62)

Kekhawatiran dan kesedihan merupakan ciri-ciri futur dan galau. Barangkali ada sebagian kawan-kawan kita yang mengalaminya sekarang.

Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika futur menghampiri?

Yang pertama kali kita lakukan adalah bersyukur atas futur yang telah dikaruniakan kepada diri kita. Itu tandanya Allah masih memberikan kita nikmat perasaan berdosa, karena Dia masih sayang kepada kita. Andai Allah tidak memberikan nikmat ini, niscaya kita akan menjadi seperti Fir’aun yang kufur dan menganggap dirinya adalah Tuhan.

“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS An-Nuur[24]:21)

Pada suatu waktu kita bisa begitu aktif berdakwah, mengisi taujih di sana sini, intensitas syuromeningkat, serasa kita sudah benar-benar memikirkan nasib umat. Tanpa sadar kita pun memuji kebaikan diri kita sendiri, “Hmm.. Aku sudah berjuang keras untuk umat ini.”

Itu adalah masa-masa kedigdayaan kita sebagai seorang aktivis dakwah. Mencicipi nikmat berdakwah juga merupakan karunia Allah. Jadi maklum kalau aktivis dakwah merasa bahagia dengan capaiannya.

Ketika perasaan itu membumbung terlalu tinggi, Allah pun memberikan kita futur atau galau. Tujuannya apa? Agar kita tidak terlena dengan kebaikan kita. Karena itu, salah seorang salaf mengatakan:

“Berapa banyak maksiat yang memasukkanmu ke dalam syurga, dan berapa banyak amal ketaatan yang memasukkanmu ke dalam neraka.”

Maksudnya, sebagian perbuatan maksiat membuat pelakunya menjadi orang yang hina dina, hancur hatinya, tunduk, dan penuh penyesalan, gundah gulana dan sedih, menangis dan mengiba, beristighfar dan beramal shalih. Sehingga, penyesalan dan taubatnya itu menjadi sebab yang menjadikan dia masuk syurga.

Dengan adanya futur, berarti Allah masih memberikan kita sinyal, bahwa di hati kita ada ketidakberesan. Sehingga ketika sinyal kita tangkap, nurani kita segera mendorong diri kita untuk melakukan ishlahun-nafs atau perbaikan diri.

Dalam neurologi dikenal adanya reseptor dan efektor. Sebagai contoh ketika kita asyik berjalan tanpa alas kaki, telapak kaki kita tertusuk duri, reseptor akan mengirim sinyal ke sistem saraf pusat untuk memberitahu bahwa ada duri yang menancap di telapak kaki. Setelah itu sistem saraf pusat mengirimkan sinyal ke efektor, agar membuat rasa sakit pada daerah yang tertusuk duri. Dengan respon sakit itu kita bisa tahu kalau ada ketidakberesan di kaki kita, sehingga kita bisa melakukan tindakan ‘penyelamatan’ seperti berhenti sejenak untuk mencabut duri tersebut.

Bayangkan jika tidak ada sinyal yang dikirim, duri itu tetap akan menancap di kaki kita tanpa kita ketahui. Ia akan terus bercokol di sana, tanpa ada yang mengusiknya. Lama-kelamaan duri itu masuk ke dalam daging dan membuat kaki kita infeksi, bahkan lebih parah lagi.

Begitu pun dengan jiwa kita. Andai Allah tidak memberi kita sinyal bahwa hati kita sedang tidak beres, niscaya kita menjadi sombong. Awalnya muncul dengan wujud narsis, semakin lama berubah ‘ujub, lalu menjadi ‘ujub kronis, lantas berubah sombong. Dan apa ganjaran yang pas untuk orang sombong?

“(Dikatakan kepada mereka), ‘Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong’.” (QS Al-Mu’min [40]:76)

Na’udzubillahi min dzalik.

source: fimadani.com